Jumat, 24 Desember 2010

bacaan awal

RIMPU MBOJO YANG NYARIS KEHILANGAN MAKNA PDF Print E-mail
Wednesday, 14 April 2010
Oleh : Yayi Sundari
 
SarimpuBima merupakan salah satu Kerajaan islam tersohor di Indonesia bagian Timur. Kesohorannya hingga pernah berstatus swapraja selama kurun waktu 5-6 tahun dan hingga kini masih didapati bukti dan peninggalannya. Beragam tradisi dan budaya terlahir dan masih dipertahankan rakyatnya. Salah satu yang hingga kini masih kekal bahkan terwarisi adalah budaya rimpu, sebuah identitas kemusliman yang hingga kini nyaris kehilangan makna.

Rimpu merupakan busana adat harian tradisional yang berkembang pada masa kesultanan, sebagai identitas bagi wanita muslim di Bima. Rimpu mulai populer sejak berdirinya Negara Islam di Bima pada 15 Rabiul awal 1050 H bertepatan dengan 5 Juli 1640.

Masuknya rimpu ke Bima amat kental dengan masuknya Islam ke Kabupaten bermotokan Maja Labo Dahu ini. Pedagang Islam yang datang ke Bima terutama wanita Arab menjadi ispirasi kuat bagi wanita Bima untuk mengidentikkan pakaian mereka dengan menggunakan rimpu.


Menurut sejarawan Bima, M. Hilir Ismail, keberadaan rimpu juga tak lepas dari upaya pemerintah (masa Sultan Nuruddin) untuk memanfaatkan kain sarung atau kain tenun Bima yang sudah lama dikenal bahkan menjadi komoditi perdagangan dunia yang sangat laris sekitar abad 13 lampau. Sebab, pada masa itu, dou mbojo memanfaatkan melimpahnya tanaman kapas untuk dijadikan kain tenun yang menjadi komoditi perdagangan yang terjual hingga ke negeri Cina. Sejak saat itu, semua wanita yang sudah akil baliq diwajibkan memakai rimpu apabila hendak bepergian meninggalkan rumah dan keluarganya untuk sesuatu urusan. Kalau tidak, berarti sudah melanggar hukum agama dan adat pada saat itu. “Hukumannya lebih kepada hukuman moral. Orang yang melanggar dengan sendirinya akan merasa malu”, ujarnya.

Keterangan Hilir diperkuat lagi oleh Nur Farhaty Ghani, dari Forum Perempuan (ForPuan) Bima. Menurutnya, rimpu merupakan bagian dari identitas wanita Bima pada masa Islam baru berkembang di Bima. “Zaman dulu, wanita Bima dengan bangga memakai rimpu untuk menunjukkan ke khalayak bahwa mereka sudah bisa menenun dan kain yang mereka gunakan adalah hasil karya sendiri,” paparnya. Menurutnya, memakai rimpu pada masa itu semacam show (pertunjukan). “Ini loh kain hasil tenun saya. Saya sudah bisa menenun,” contohnya.

Keeratan hubungan rimpu dengan perkembangan islam pada masa itu tampak jelas. Dari keterangan pelaku sejarah, wanita Bima yang hidup pada masa itu memandang tersingkapnya aurat mereka sebagai aib. Siapapun lelaki baik sengaja atau tidak melihat aurat mereka, pria tersebut wajib menikahinya. “Dengan tersingkapnya betis saja, wanita zaman dulu sudah merasa malu dan segera minta nikah. Mereka menganggap itu sebagai bentuk pelecehan (aib) terhadap wanita,” paparnya.

Rimpu merupakan busana yang terbuat dari dua lembar sarung yang bertujuan untuk menutup seluruh bagian tubuh. Satu lembar untuk mernutup kepala, satu lembar lagi sebagai pengganti rok. Sesuai penggunaannya, rimpu bagi kaum wanita di Bima dibedakan sesuai status. Bagi gadis, memakai rimpu mpida—yang artinya seluruh anggota badan terselubung kain sarung dan hanya mata yang dibiarkan terbuka. Ini sama saja dengan penggunaan cadar pada kaum wanita muslim. Caranya, sarung yang ada dililit mengikuti arah kepala dan muka kemudian menyisakan ruang terbuka pada bagian mata. Sedangkan bagi kaum wanita yang telah bersuami memakai rimpu colo. Dimana bagian muka semua terbuka. Caranya pun hampir sama. Sedangkan untuk membuat rok, sarung yang ada cukup dililitkan pada bagian perut dan membentuknya seperti rok dan kemudian mentangkupkan pada bagian kanan dan kiri pinggang.

Adanya perbedaan penggunaan rimpu antara yang masih gadis dengan yang telah bersuami, secara tidak langsung menjelaskan pada masyarakat terutama kaum pria tentang status wanita pada zaman itu. Bagi kaum pria terutama yang masih lajang, melihat mereka yang mengenakan rimpu mpida merupakan pertanda baik. Apalagi, jika pria lajang tersebut sudah berkeinginan untuk segera berumah tangga. Dengan sendirinya, pria-pria lajang akan mencari tau keberadaan gadis incarannya dari sarung yang dikenakannya.

Seiring perkembangan zaman, keberadaan rimpu hampir terlupakan. Malah, beberapa tahun terakhir, sebagian besar masyarakat Bima yang beragama Islam beralih mengenakan jilbab dengan trend mode yang bermunculan. Parahnya, generasi-generasi sekarang sudah banyak yang tak mengenal rimpu. Kalaupun ada, mereka tak mengerti cara penggunaannya. Wanita Bima masa kini menganggap orang yang mengenakan rimpu sebagai wanita kolot dan kampungan.
Saat ini, wanita Bima yang mengenakan Rimpu masih bisa ditemukan di daerah-daerah seperti di Kecamatan Wawo, Sape, Lambitu, Wilayah Kae (Palibelo, Belo, Woha dan Monta), juga di Kecamatan Sanggar dan Tambora Kabupaten Bima.

Tidak ada alasan untuk tidak melestarikan budaya rimpu ini dan sudah sepatutnya ada sebuah kebijakan yang menunjang pelestariannya. Pemerintah Bima seharusnya mulai memikirkan upaya teresbut, paling tidak sebuah kebijakan pada hari tertentu agar wanita Bima mengenakan busana harian Rimpu patut dipertimbangkan sehingga berdampak pula pada peningkatan pendapatan sektor industri rumahan khususnya tenunan tradisional Bima.

*Tulisan ini pernah dimuat di Koran Rakyat

la sampa raja

LA SAMPA raja-keris dari masa kerajaan bima sampai masa kesultanan bima...












Baju Adat Bima

Pakaian adat Masyarakat Bima



      Kategori : Cagar Budaya
      Upload : 12/11/2010
      Jam : 23:11:43

si Mbojo Bukti Kebesaran Bima

Traveling and Leisure | Tue, Nov 10, 2009 at 01:24 | Jakarta, matanews.com
museum asi mbojo
Museum Asi Mbojo/ist.file
Tiba-tiba saja kota Bima menjadi pemberitaan media massa, setelah gempa bumi berkekuatan 6,7 skala richter (SR) mengguncang Kota yang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) Senin dinihari pukul 03.41 WITA. Peristiwa ini, membuat jutaan masyarakat Indonesia dan dunia tertuju ke kabupaten yang terkenal dengan susu kuda liarnya itu.
Bagi anda yang kebetulan berminat melakukan perjalanan ke Bima, selain untuk melihat dari dekat dampak dari peristiwa alam tersebut, sekaligus bisa memuaskan mata dengan mengunjungi beberapa tempat yang kerap dikunjungi wisatawan.
Salah satu tempat yang harus dihampiri dan wajib dikunjungi adalah, Museum Asi Mbojo, karena ditempat inilah bisa didapat sejarah kebesaran kerajaan Bima dimasa lampau. Jadi, bagi anda yang suka berpetualang, jika hendak berkunjung ke Bima, jangan lupa untuk mampir ke istana yang kini jadi museum ini.
Luas, kokoh dan kuno. Itulah kesan yang tertangkap dari gedung Museum Asi Mbojo yang terletak di jantung Kota Bima. Bangunan tersebut dahulu merupakan istana kasultanan Bima, kini berfungsi sebagai museum.
Museum Asi Mbojo bukan hanya saksi sejarah Bima, lebih dari itu ia menyimpan cerita panjang temali benang merah peradaban masyarakat Bima dari masa kesultanan Bima hingga kini. Arsitektur bangunan Museum Asi Mbojo merupakan perpaduan khas Bima dan Belanda. Bangunan kokoh dan menjulang itu terdiri dua lantai dan menempati areal tidak kurang dari lima are.
Asi Mbojo berarti Istana Bima. Istana itu dibangun pada 1927 dan resmi menjadi istana kasultanan Bima pada 1929. Bangunan istana diapit oleh dua pintu gerbang di sisi barat dan timur. Tata letak Asi Mbojo tidak jauh berbeda dengan istana lain di Tanah Air. Istana menghadap ke barat dan di depannya terdapat tanah lapang atau alun-alun bernama Serasuba.
Di tempat itulah konon raja tampil secara terbuka di depan rakyat di saat-saat tertentu, misalnya saat diselenggarakan upacara-upacara penting atau perayaan hari besar keagamaan. Serasuba juga menjadi arena latihan pasukan kesultanan.
Di sebelah alun-alun terdapat sebuah bangunan masjid, sebagai sarana kegiatan ritual keagamaan. Istana, alun-alun dan masjid yang merupakan konsepsi filosofi pemerintah, rakyat dan agama merupakan satu kesatuan yang utuh.
Petugas museum, Astuti menjelaskan, bersamaan dengan berakhirnya masa kesultanan pada 1952, maka berakhirlah peranan Asi Mbojo sebagai pusat pemerintahan, pusat pengembangan seni dan budaya, pusat penyiaran Islam dan pusat pengadilan adat.
Museum Asi Mbojo menyimpan barang-barang peninggalan raja-raja dan sultan-sultan Bima. Di kedua pintu gerbang tidak ada lagi anggota pasukan pengawal kesultanan. Alun-alun Serasuba telah beralih fungsi menjadi lapangan sepakbola.
Memasuki bagian gedung Museum Asi Mbojo, di lantai satu di bagian kanan, langsung tersaji koleksi akaian adat untuk perkawinan kalangan bangsawan dan masyarakat jelata berikut pelaminannya.
Di sisi lainnya, ada sejumlah almari yang menyimpan koleksi alat pertanian, alat berburu, alat transportasi, alat yang digunakan dalam bidang perikanan, peralatan memasak, peralatan makan dan lain sebagainya. “Alat-alat tradisional ini merupakan alat-alat yang digunakan masyarakat Bima pada masa lalu,” kata petugas museum, Astuti, ketika mendampingi berkeliling museum.
Koleksi lainnya diantaranya berupa pakaian adat Bima, pakaian untuk kesenian tari, kitab-kitab koleksi Sultan, senjata api jaman Portugis dan Belanda serta koleksi lainnya.
Di bagian kiri terdapat ruangan untuk menyimpan koleksi senjata seperti keris, trisula dan perlengkapan perang lainnya. Tidak kurang dari 100 koleksi di ruang itu. Koleksi-koleksi di tempat tersebut semuanya terbuat dari emas dan perak.
Setelah naik tangga di bagian tengah ruangan, di lantai dua terdapat sejumlah kamar atau ruang tidur keluarga Sultan. Diantara kamar-kamar tersebut ada satu kamar yang dulu pernah digunakan untuk menginap Presiden RI I, Soekarno, ketika berkunjung ke Bima. Presiden Soekarno berkunjung ke kasultanan Bima pada 1945 dan 1951.
Astuti mengatakan, koleksi-koleksi yang ada di Museum Asi Mbojo itu hanya sebagian dari koleksi kasultanan Bima. Sebagian koleksi lainnya disimpan keluarga Sultan.
Kesultanan Bima adalah kerajaan yang terletak di Bima. Penduduk daerah ini dahulunya beragama Hindu (Syiwa). Menurut catatan lama Istana Bima, pada masa pemerintahan raja yang bergelar “Ruma Ta Ma Bata Wadu”, menikah dengan adik dari isteri Sultan Makassar Alauddin bernama Daeng Sikontu, puteri Karaeng Kassuarang.
Ia menerima agama Islam pada tahun 1050 H atau 1640 M. Raja atau Sangaji Bima tersebut digelari dengan “Sultan” yakni Sultan Bima I (Sultan Abdul Kahir). Setelah Sultan Bima I mangkat dan digantikan oleh putranya yang bernama Sultan Abdul Khair Sirajuddin sebagai Sultan II, maka sistem pemerintahannya berubah dengan berdasarkan “Hadat dan Hukum Islam”.
Sementara itu, Sultan Ibrahim (Sultan Bima ke- XI) dari pernikahannya melahirkan Sultan Salahuddin yang kemudian diangkat menjadi Sultan Bima ke- XII sebagai Sultan Bima terakhir.
Butuh Waktu
Berkunjung ke Museum Asi Mbojo memang merupakan agenda yang menarik, namun untuk menjangkaunya dari Mataram, Ibukota Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), butuh waktu cukup lama. Apalagi musim kemarau membuat udara kurang bersahabat. Panas terik dan kering kerontang mewarnai udara serta area pertanian di daerah tersebut. Hujan juga jarang turun.
Perjalanan darat dari penyeberangan Poto Tano di Kabupaten Sumbawa menyusuri perbukitan hingga Dompu sampai Bima, yang terlihat hanya perbukitan dengan pepohonan meranggas, sementara rerumputan di padang penggembalaan mengering.
Sepertinya tidak ada pemandangan yang menarik sepanjang perjalanan selama musim panas di Pulau Sumbawa, kecuali hamparan pantai dengan air membiru yang masih menyisakan kesan keteduhan.
Bima adalah salah satu kota di Pulau Sumbawa yang merupakan bagian dari Provinsi NTB. Untuk menjangkau kota ini dari Mataram dapat ditempuh melalui jalur darat atau jalur udara. Jika ditempuh melalui perjalanan darat, dari Mataram harus melakukan perjalanan darat lebih dulu ke pelabuhan penyeberangan Kayangan di Kabupaten Lombok Timur. Waktu tempuh antara Kota Mataram-Lombok Timur berkisar 1,5 -2 jam.
Perjalanan masih harus dilanjutkan dengan menyeberang ke Poto Tano di Kabupaten Sumbawa dengan waktu tempuh antara 1,5 – 2 jam. Setelah tiba di pelabuhan penyeberangan di Pulau Sumbawa itu, perjalanan ke Bima masih harus menempuh jarak sekitar 350 kilometer lagi.
Meski jalannya beraspal, tapi untuk menempuh jarak sejauh itu perlu konsentrasi tinggi, sebab jalan yang ditempuh berkelok-kelok, naik turun menyusuri bukit dan jurang di sisi jalan yang curam.
Namun, jika ingin perjalanan lebih singkat, dari Bandara Selaparang di Mataram, bisa langsung naik pesawat menuju jurusan Bandara Sultan Muhammad Salahuddin di Bima. Waktu tempuh sekitar 30 menit. Harga tiket pesawat Mataram-Bima cukup terjangkau karena selama ini masih disubsidi oleh pemerintah daerah setempat.
Jika ditempuh melalui perjalanan darat, beberapa kilometer sebelum memasuki kota Bima, tepatnya memasuki wilayah Kecamatan Bolo, di sepanjang kiri jalan mulai terlihat hamparan tambak garam. Ratusan bahkan mungkin ribuan hektar tambak garam terpetak-petak.
Para petani sedang memanen garam setelah air laut yang dialirkan ke petak-petak tambak, mulai menghasilkan kristal putih yakni garam. Sebagian lainnya memasukkannya ke karung. Harga per karung (60 kilogram) sebesar Rp60 ribu.
Beberapa saat setelah itu mulai terlihat panorama Pantai Lawata. Pantai dengan panjang sekitar setengah kilometer itu pada hari libur banyak dikunjungi masyarakat. Karena letaknya sebelum masuk kota, maka Pantai Lawata oleh sebagian orang dijuluki juga sebagai pantai selamat datang.
Meski untuk menjangkau Museum Asi Mbojo butuh waktu panjang, tapi sesampainya di lokasi bangunan kuno itu rasa lelah akan terlunasi dengan segudang cerita sejarah Bima yang sangat melegenda.(*an/shp/z)

bacaan awal

Busana Adat Bima Yang Anggun

Tenun Ikat Bima pernah dikenakan oleh Kepala-Kepala Negara pada Pertemuan APEC di Bali beberapa Tahun Lalu. Termasuk dikenakan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada saat menyampaikan Visi Misinya sebagai Calon Presiden di hadapan Anggota KADIN pada Pemilu Pilpres Tahun 2009. Hal ini tentunya menjadi sebuah kebanggan bahwa daerah kecil di ujung timur NTB ini memiliki segudang potensi alam dan budaya yang perlu dikembangkan.

Secara umum busana atau pakaian adat Bima hampir sama dengan Sulawesi Selatan. Hal itu diperkuat dengan ikatan sejarah bahwa Bima dengan Makasar, Gowa, Bone dan Tallo itu memiliki hubungan dan ikatan kekeluargaan serta kekerabatan. Proses pembauran dan asimilasi budaya itu telah berlangsung lama dan mempengaruhi juga cara berbusana dan motif busana yang dikenakan. Meskipun ada beberapa perbedaan antara busana adat Bima dengan Sulawesi Selatan.
Warna yang menonjol dalam pakaian adat Bima antara lain hitam, biru tua, coklat, merah dan kemerah-merahan serta putih. Untuk pakaian wanita memakai kain sarung kotak-kotak yang dikenal dengan sebutan Tembe Lombo. Disamping pakaian sehari-hari pakaian adat juga diatur oleh pihak Kesultanan. Yang diatur oleh Majelis Adat yang disebut KANI SARA. Prosedur dan Tata Cara pemakaiannya pun telah diatur dalam ketetapan Hadat.
Menurut Muslimin Hamzah ada empat golongan pakaian adat sehari-hari masyarakat Bima. Pertama, pakaian yang digunakan secara umum sebagai pakaian harian atau pakaian untuk acara resmi. Kedua, pakaian Dinas Para Pejabat Kesultanan. Ketiga, Pakaian Pengantin, baik yang dipakai oleh golongan bangsawan, golongan menengah, maupun golongan masyarakat umum termasuk pakaian untuk khitanan. Keempat, Pakaian Penari.
Dalam kehidupan sehari-hari orang Bima mempunyai pakaian sendiri. Khusus untuk wanita meliputi Baju Poro. Baju ini terbuat dari kain yang agak tipis tetapi tidak tembus pandang. Umumnya berwarna biru tua, hitam, coklat tua dan ungu. Bagi gadis-gadis Bima biasanya memakai warna ungu atau coklat tua. Para wanita pun memakai aneka perhiasan seperti gelang, anting dan lain-lain. Namun terlarang untuk memakai secara berlebihan.
Kaum Pria mempunyai pakaian sehari-hari yang khas. Yang lazim adalah Sambolo atau Ikat Kepala. Umumnya bercorak kotak-kotak dan dihiasi tenunan benang perak/emas. Terkadang lelaki memakai baju kemeja atau baju lengan pendek atau jas tutup dengan warna putih atau hitam atau warna cerah lainnya. Untuk sarung biasanya memakai sarung pelekat yang dikenal dengan nama Tembe Kota Bali Mpida yang bercorak Kotak-kotak atau memaki Tembe Nggoli yang pemakaiannya agak panjang atau terjurai pada bagian depannya.
Untuk hiasan kaum pria memakai Salampe, sejenis dodot yang dililitkan dipinggang. Biasanya salampe berwarna dasar kuning, merah, hijau dan putih. Bagi orang dewasa biasanya menyelipkan pisau pada lilitan Salampe. Letaknya agak ke kiri pusar, sedangkan hulunya agak terjurai ke kanan. Pakaian dan busana adat Bima sangat banyak. Ini adalah kekayaan dan kearifan masa silam yang seharusnya dipertahankan dari terpaan arus globalisasi saat ini. Hanya beberapa saja yang masih dapat dilihat dan diperagakan hingga saat ini. Perlu ada upaya serius untuk melestarikan dengan berbagai kebijakan Pemerintah Daerah agar pakaian adapt ini tidak punah ditelan arus zaman. Perlu ad aide kreatif untuk mempertahankannya misalanya dengan menggelar Show Busana Adat Bima atau menetapkan dalam Peraturan Daerah tentang pelestarian Pakaian Adat Bima. (Sumber Ensiklopedia Bima, Muslimin Hamzah)

Rumah adat

Wink Kumpulan Rumah Adat Indonesia

Kumpulan Rumah Adat Indonesia

mungkin kita udah jarang liat2 rumah2 adat, ane cuma mw share, kalo repost and salah ane minta maaf ya

1. Provinsi DI Aceh / Nanggro Aceh Darussalam / NAD
Rumah Adat Tradisional : Rumoh aceh

2. Provinsi Sumatera Utara / Sumut
Rumah Adat Tradisional : Rumah balai batak toba

3. Provinsi Sumatera Barat / Sumbar
Rumah Adat Tradisional : Rumah gadang

4. Provinsi Riau
Rumah Adat Tradisional : Rumah melayu selaso jatuh kembar

5. Provinsi Jambi
Rumah Adat Tradisional : Rumah panggung

6. Provinsi Sumatera Selatan / Sumsel
Rumah Adat Tradisional : Rumah limas

7. Provinsi Lampung
Rumah Adat Tradisional : Nuwo sesat

8. Provinsi Bengkulu
Rumah Adat Tradisional : Rumah bubungan lima

9. Provinsi DKI Jakarta
Rumah Adat Tradisional : Rumah kebaya

10. Provinsi Jawa Barat / Jabar
Rumah Adat Tradisional : Kesepuhan

11. Provinsi Jawa Tengah / DI Yogyakarta / Jawa Timur
Rumah Adat Tradisional : Rumah joglo

12. Provinsi Bali
Rumah Adat Tradisional : Gapura candi bentar

13. Provinsi Nusa Tenggara Barat / NTB
Rumah Adat Tradisional : Dalam loka samawa

14. Provinsi Nusa Tenggara Timur / NTT
Rumah Adat Tradisional : Sao ata mosa lakitana

15. Provinsi Kalimantan Barat / Kalbar
Rumah Adat Tradisional : Rumah panjang

16. Provinsi Kalimantan Tengah / Kalteng
Rumah Adat Tradisional : Rumah betang

17. Provinsi Kalimantan Selatan / Kalsel
Rumah Adat Tradisional : Rumah banjar

18. Provinsi Kalimantan Timur / Kaltim
Rumah Adat Tradisional : Rumah lamin

19. Provinsi Sulawesi Utara / Sulut
Rumah Adat Tradisional : Rumah bolaang mongondow

20. Provinsi Sulawesi Tengah / Sulteng
Rumah Adat Tradisional : Souraja / Rumah besar

21. Provinsi Sulawesi Tenggara / Sultra
Rumah Adat Tradisional : Laikas

22. Provinsi Sulawesi Selatan / Sulsel
Rumah Adat Tradisional : Tongkonan

23. Provinsi Maluku
Rumah Adat Tradisional : Baileo

24. Provinsi Irian Jaya / Papua
Rumah Adat Tradisional : Rumah honai

Kamis, 23 Desember 2010

Rumah adat

Rumah Gadang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Rumah Gadang.jpg
Rumah Gadang atau Rumah Godang adalah nama untuk rumah adat Minangkabau yang merupakan rumah tradisional dan banyak di jumpai di provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Rumah ini juga disebut dengan nama lain oleh masyarakat setempat dengan nama Rumah Bagonjong atau ada juga yang menyebut dengan nama Rumah Baanjung[1].
Rumah dengan model ini juga banyak dijumpai di Negeri Sembilan, Malaysia. Namun demikian tidak semua kawasan di Minangkabau (darek) yang boleh didirikan rumah adat ini, hanya pada kawasan yang sudah memiliki status sebagai nagari saja Rumah Gadang ini boleh didirikan. Begitu juga pada kawasan yang disebut dengan rantau, rumah adat ini juga dahulunya tidak ada yang didirikan oleh para perantau Minangkabau.

Daftar isi

[sembunyikan]

[sunting] Fungsi

Rumah Gadang sebagai tempat tinggal bersama, mempunyai ketentuan-ketentuan tersendiri. Jumlah kamar bergantung kepada jumlah perempuan yang tinggal di dalamnya. Setiap perempuan dalam kaum tersebut yang telah bersuami memperoleh sebuah kamar. Sementara perempuan tua dan anak-anak memperoleh tempat di kamar dekat dapur. Gadis remaja memperoleh kamar bersama di ujung yang lain.
Seluruh bagian dalam Rumah Gadang merupakan ruangan lepas kecuali kamar tidur. Bagian dalam terbagi atas lanjar dan ruang yang ditandai oleh tiang. Tiang itu berbanjar dari muka ke belakang dan dari kiri ke kanan. Tiang yang berbanjar dari depan ke belakang menandai lanjar, sedangkan tiang dari kiri ke kanan menandai ruang. Jumlah lanjar bergantung pada besar rumah, bisa dua, tiga dan empat. Ruangnya terdiri dari jumlah yang ganjil antara tiga dan sebelas.
Rumah Gadang biasanya dibangun diatas sebidang tanah milik keluarga induk dalam suku/kaum tersebut secara turun temurun[2] dan hanya dimiliki dan diwarisi dari dan kepada perempuan pada kaum tersebut[3]. Dihalaman depan Rumah Gadang biasanya selalu terdapat dua buah bangunan Rangkiang, digunakan untuk menyimpan padi. Rumah Gadang pada sayap bangunan sebelah kanan dan kirinya terdapat ruang anjung (Bahasa Minang: anjuang) sebagai tempat pengantin bersanding atau tempat penobatan kepala adat, karena itu rumah Gadang dinamakan pula sebagai rumah Baanjuang. Anjung pada kelarasan Bodi-Chaniago tidak memakai tongkat penyangga di bawahnya, sedangkan pada kelarasan Koto-Piliang memakai tongkat penyangga. Hal ini sesuai filosofi yang dianut kedua golongan ini yang berbeda, salah satu golongan menganut prinsip pemerintahan yang hirarki menggunakan anjung yang memakai tongkat penyangga, pada golongan lainnya anjuang seolah-olah mengapung di udara. Tidak jauh dari komplek Rumah Gadang tersebut biasanya juga dibangun sebuah surau kaum yang berfungsi sebagai tempat ibadah, tempat pendidikan dan juga sekaligus menjadi tempat tinggal lelaki dewasa kaum tersebut yang belum menikah.

[sunting] Arsitektur

Rumah adat ini memiliki keunikan bentuk arsitektur dengan bentuk puncak atapnya runcing yang menyerupai tanduk kerbau dan dahulunya dibuat dari bahan ijuk yang dapat tahan sampai puluhan tahun[3] namun belakangan atap rumah ini banyak berganti dengan atap seng.
Rumah Gadang ini dibuat berbentuk empat persegi panjang dan dibagi atas dua bahagian muka dan belakang. Dari bagian dari depan Rumah Gadang biasanya penuh dengan ukiran ornamen dan umumnya bermotif akar, bunga, daun serta bidang persegi empat dan genjang[1]. Sedangkan bagian luar belakang dilapisi dengan belahan bambu. Rumah tradisional ini dibina dari tiang-tiang panjang, bangunan rumah dibuat besar ke atas, namun tidak mudah rebah oleh goncangan[1], dan setiap elemen dari Rumah Gadang mempunyai makna tersendiri yang dilatari oleh tambo yang ada dalam adat dan budaya masyarakat setempat.
Pada umumnya Rumah Gadang mempunyai satu tangga yang terletak pada bagian depan. Sementara dapur dibangun terpisah pada bagian belakang rumah yang didempet pada dinding.

[sunting] Ukiran

Pada bagian dinding Rumah Gadang di buat dari bahan papan, sedangkan bagian belakang dari bahan bambu. Papan dinding dipasang vertikal, sementara semua papan yang menjadi dinding dan menjadi bingkai diberi ukiran, sehingga seluruh dinding menjadi penuh ukiran. Penempatan motif ukiran tergantung pada susunan dan letak papan pada dinding Rumah Gadang.
Pada dasarnya ukiran pada Rumah Gadang merupakan ragam hias pengisi bidang dalam bentuk garis melingkar atau persegi. Motifnya umumnya tumbuhan merambat, akar yang berdaun, berbunga dan berbuah. Pola akar biasanya berbentuk lingkaran, akar berjajaran, berhimpitan, berjalinan dan juga sambung menyambung. Cabang atau ranting akar berkeluk ke luar, ke dalam, ke atas dan ke bawah.
Disamping motif akar, motif lain yang dijumpai adalah motif geometri bersegi tiga, empat dan genjang. Motif daun, bunga atau buah dapat juga diukir tersendiri atau secara berjajaran.

[sunting] Referensi

  1. ^ a b c Navis, A.A., Cerita Rakyat dari Sumatera Barat 3, Grasindo, ISBN 979-759-551-X.
  2. ^ Graves, Elizabeth E., (2007), Asal-usul elite Minangkabau modern: respons terhadap kolonial Belanda abad XIX/XX, Jakarta:Yayasan Obor Indonesia, ISBN 978-979-461-661-1.
  3. ^ a b Dawson, Barry; Gillow, John (1994), The Traditional Architecture of Indonesia, London: Thames and Hudson, ISBN 0-500-34132-X.

Selasa, 21 Desember 2010

Sasando

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Sasando
Sasando pada uang kertas Rp. 5.000,- emisi tahun 1992.
Sasando adalah sebuah alat instrumen petik musik. Instumen musik ini berasal dari pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Secara harfiah nama Sasando menurut asal katanya dalam bahasa Rote, sasandu, yang artinya alat yang bergetar atau berbunyi. Konon sasando digunakan di kalangan masyarakat Rote sejak abad ke-7. Bentuk sasando ada miripnya dengan instrumen petik lainnya seperti gitar, biola dan kecapi.
Bagian utama sasando berbentuk tabung panjang yang biasa terbuat dari bambu. Lalu pada bagian tengah, melingkar dari atas ke bawah diberi ganjalan-ganjalan di mana senar-senar (dawai-dawai) yang direntangkan di tabung, dari atas kebawah bertumpu. Ganjalan-ganjalan ini memberikan nada yang berbeda-beda kepada setiap petikan senar. Lalu tabung sasando ini ditaruh dalam sebuah wadah yang terbuat dari semacam anyaman daun lontar yang dibuat seperti kipas. Wadah ini merupakan tempat resonansi sasando.[1]

Barong (mitologi)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Barong
Barong sedang menggaruk-garuk seperti kucing
Barong adalah karakter dalam mitologi Bali. Ia adalah raja dari roh-roh serta melambangkan kebaikan. Ia merupakan musuh Rangda dalam mitologi Bali. Banas Pati Rajah adalah roh yang mendampingi seorang anak dalam hidupnya. Banas Pati Rajah dipercayai sebagai roh yang menggerakkan Barong. Sebagai roh pelindung, Barong sering ditampilkan sebagai seekor singa. Tarian tradisional di Bali yang menggambarkan pertempuran antara Barong dan Rangda sangatlah terkenal dan sering diperlihatkan sebagai atraksi wisata.
Barong singa adalah salah satu dari lima bentuk Barong. Di pulau Bali setiap bagian pulau Bali mempunyai roh pelindung untuk tanah dan hutannya masing-masing. Setiap Barong dari yang mewakili daerah tertentu digambarkan sebagai hewan yang berbeda. Ada babi hutan, harimau, ular atau naga, dan singa. Bentuk Barong sebagai singa sangatlah populer dan berasal dari Gianyar. Di sini terletak Ubud, yang merupakan tempat pariwisata yang terkenal. Dalam Calonarong atau tari-tarian Bali, Barong menggunakan ilmu gaibnya untuk mengalahkan Rangda.